Jumat, 21 September 2012

          Ini ada beberapa kiriman dari seorang teman dari sebuah group facebook pulau burung comunity,mereka yang tau tentang pulau burung tapi saya kurang pasti apa dia asli pulau burung atau pendatang ataupun hanya pernah singgah sebentar di pulau burung .ini tanggapan nya tentang pulau burung,
nama facebooknya "Max's Halim".

Pulau burung, namanya samar saja kudengar.
Tapi entah mengapa mengingat pulau kecil itu,
membuatku yakin bahwa Indonesia itu memanglah ada.
Pulau Burung tak sibuk dengan hiruk pikuk pembangunan infrastruktur
seperti di kota-kota besar di nusantara.
Hanya jalan semen sederhana, sebuah pasar tua dan sebuah dermaga yang yang tak bisa dikata muda. Hanya itu infrastruktur penting di Pulau Burung.
Namun bukan berarti kebahagiaan jauh dari orang-orang Pulau Burung.
Kala Adzan maghrib datang, semua aktivitas terhenti tak peduli muslim atau bukan.
Tapi begitulah penghuni Pulau Burung menghargai waktu yang penting bagi umat muslim itu.
Listrik memang ada tapi sangat terbatas, tak lebih dari jam 10 malam.
Gelap gulitalah Pulau Burung.
Itu juga yang di seputar pasar, selebihnya memang belum teraliri listrik.
Malam selalu syahdu di Pulau Burung,
begitu kata pedagang nasi di pasar.
Pulau burung memang bukan tempat wisata yang molek
dengan pantai pasir putih atau sajian tradisi.
Tapi, justru dalam ketiadaan itulah aku melihat wajah Indonesia lebih jelas dan indah.
Indonesia yang kusaksikan dalam keindahan dan beragam
“jualan” wisata lainnya kadang hanya ada kamuflase.
Semua serba panggung, tapi tidak di Pulau Burung,
semua mengalir begitu saja. Tak ada tradisi yang “dibangkitkan
dari kubur” hanya untuk menangguk wisatawan.
Tak ada pula orang suku asli yang dirias agar bisa menarik perhatian wisatawan.
Semua berjalan biasa saja.
Menyaksikan Pulau Burung dengan romantikanya,
membuatku sedih sekaligus bahagia. Sedih, karena mereka
seperti sekumpulan orang- orang republik yang dilupakan.
Tapi bahagia karena mereka ber Indonesia dengan kaya raya.
Perbedaan adalah ruang yang mereka apresiasi dengan sederhana,
kekurangan mereka anggap sebagai kesempatan untuk terus menjadi sederhana dan tak tamak.
Ah, ini semua mungkin karena aku muak ber Indonesia ala kita yang penuh basa-basi.
Ke-Indonesiaan kita adalah riasan, sedangkan di Pulau Burung Indonesia itu adalah substansi.
Bukankah Indonesia kita ini diciptakan agar penghuninya menjadi riang dan senang,
tanpa mengkhawatirkan perbedaan. Kutemukan itu di Pulau Burung.
dan ini satu lagi komentar seorang teman tentang pulau burung nama facebooknya "Siti Nur Azizah"
            Waktu terasa gegas hanya di dermaga, selebihnya waktu hanya nisbi, begitulah di Pulau Burung. Pernah mendengar nama tempat itu ? Iya Pulau Burung. Ah, kurasa satu dalam seribu saja di antara kita yang mengenal nama itu. Tak ada yang istimewa di situ, hanya waktu yang tak pernah benar-benar eksis. Dari sepotong tanah di timur laut Sumatera inilah kutemukan sisi lain Indonesia. 
Mereka ber-Indonesia dengan sederhana, begitu kata teman seperjalananku sepulang dari Pulau Burung. Berada di Provinsi kaya (Riau), Kabupaten Indragiri Hilir. Tak ada atribut-atribut mentereng yang menandakan sepotong tanah ini adalah Indonesia. Tak ada bendera-bendera lebar yang berkibar di dermaga, tak pula ada slogan-slogan besar pengusung “nasionalisme baliho”. Tak ada percakapan-percakapan serius tentang masa depan Indonesia. Hanya canda-canda kecil khas Melayu saja yang mewarnai warung-warung kopi di sepanjang jalan kecil pasar- pelabuhan.

ini lah komentar mereka tentang suasana pulau burung, dan aku tinggal di daratnya lagi sekitar kurang lebih 7km dari pulau burung ,yaitu sungai pertpat. jalannya masih jalan tanah, kalau hujan lengket,karna tanah liat, kalau panas berdebu,,, hmmmm itulah pulau burung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar