nama facebooknya "Max's Halim".
Pulau burung, namanya samar saja kudengar.
Tapi entah mengapa mengingat pulau kecil itu,
membuatku yakin bahwa Indonesia itu memanglah ada.
Pulau Burung tak sibuk dengan hiruk pikuk pembangunan infrastruktur
seperti di kota-kota besar di nusantara.
Hanya jalan semen sederhana, sebuah pasar tua dan sebuah dermaga yang yang tak bisa dikata muda. Hanya itu infrastruktur penting di Pulau Burung.
Namun bukan berarti kebahagiaan jauh dari orang-orang Pulau Burung.
Kala Adzan maghrib datang, semua aktivitas terhenti tak peduli muslim atau bukan.
Tapi begitulah penghuni Pulau Burung menghargai waktu yang penting bagi umat muslim itu.
Listrik memang ada tapi sangat terbatas, tak lebih dari jam 10 malam.
Gelap gulitalah Pulau Burung.
Itu juga yang di seputar pasar, selebihnya memang belum teraliri listrik.
Malam selalu syahdu di Pulau Burung,
begitu kata pedagang nasi di pasar.
Pulau burung memang bukan tempat wisata yang molek
dengan pantai pasir putih atau sajian tradisi.
Tapi, justru dalam ketiadaan itulah aku melihat wajah Indonesia lebih jelas dan indah.
Indonesia yang kusaksikan dalam keindahan dan beragam
“jualan” wisata lainnya kadang hanya ada kamuflase.
Semua serba panggung, tapi tidak di Pulau Burung,
semua mengalir begitu saja. Tak ada tradisi yang “dibangkitkan
dari kubur” hanya untuk menangguk wisatawan.
Tak ada pula orang suku asli yang dirias agar bisa menarik perhatian wisatawan.
Semua berjalan biasa saja.
Menyaksikan Pulau Burung dengan romantikanya,
membuatku sedih sekaligus bahagia. Sedih, karena mereka
seperti sekumpulan orang- orang republik yang dilupakan.
Tapi bahagia karena mereka ber Indonesia dengan kaya raya.
Perbedaan adalah ruang yang mereka apresiasi dengan sederhana,
kekurangan mereka anggap sebagai kesempatan untuk terus menjadi sederhana dan tak tamak.
Ah, ini semua mungkin karena aku muak ber Indonesia ala kita yang penuh basa-basi.
Ke-Indonesiaan kita adalah riasan, sedangkan di Pulau Burung Indonesia itu adalah substansi.
Bukankah Indonesia kita ini diciptakan agar penghuninya menjadi riang dan senang,
tanpa mengkhawatirkan perbedaan. Kutemukan itu di Pulau Burung.
Namun bukan berarti kebahagiaan jauh dari orang-orang Pulau Burung.
Kala Adzan maghrib datang, semua aktivitas terhenti tak peduli muslim atau bukan.
Tapi begitulah penghuni Pulau Burung menghargai waktu yang penting bagi umat muslim itu.
Listrik memang ada tapi sangat terbatas, tak lebih dari jam 10 malam.
Gelap gulitalah Pulau Burung.
Itu juga yang di seputar pasar, selebihnya memang belum teraliri listrik.
Malam selalu syahdu di Pulau Burung,
begitu kata pedagang nasi di pasar.
Pulau burung memang bukan tempat wisata yang molek
dengan pantai pasir putih atau sajian tradisi.
Tapi, justru dalam ketiadaan itulah aku melihat wajah Indonesia lebih jelas dan indah.
Indonesia yang kusaksikan dalam keindahan dan beragam
“jualan” wisata lainnya kadang hanya ada kamuflase.
Semua serba panggung, tapi tidak di Pulau Burung,
semua mengalir begitu saja. Tak ada tradisi yang “dibangkitkan
dari kubur” hanya untuk menangguk wisatawan.
Tak ada pula orang suku asli yang dirias agar bisa menarik perhatian wisatawan.
Semua berjalan biasa saja.
Menyaksikan Pulau Burung dengan romantikanya,
membuatku sedih sekaligus bahagia. Sedih, karena mereka
seperti sekumpulan orang- orang republik yang dilupakan.
Tapi bahagia karena mereka ber Indonesia dengan kaya raya.
Perbedaan adalah ruang yang mereka apresiasi dengan sederhana,
kekurangan mereka anggap sebagai kesempatan untuk terus menjadi sederhana dan tak tamak.
Ah, ini semua mungkin karena aku muak ber Indonesia ala kita yang penuh basa-basi.
Ke-Indonesiaan kita adalah riasan, sedangkan di Pulau Burung Indonesia itu adalah substansi.
Bukankah Indonesia kita ini diciptakan agar penghuninya menjadi riang dan senang,
tanpa mengkhawatirkan perbedaan. Kutemukan itu di Pulau Burung.
dan ini satu lagi komentar seorang teman tentang pulau burung nama facebooknya "Siti Nur Azizah"
Waktu
terasa gegas hanya di dermaga, selebihnya waktu hanya nisbi, begitulah
di Pulau Burung. Pernah mendengar nama tempat itu ? Iya Pulau Burung.
Ah, kurasa satu dalam seribu saja di antara kita yang mengenal nama itu.
Tak ada yang istimewa di situ, hanya waktu yang tak pernah benar-benar
eksis. Dari sepotong tanah di timur laut Sumatera inilah kutemukan sisi
lain Indonesia.